Ini sahabatku, namanya adalah kesepian. Dia ada, walaupun tak berwujud. Dia juga memiliki sifat yang sangat pemalu, karena itulah dia hanya ...

Kesepian Adalah Sahabatku

Ini sahabatku, namanya adalah kesepian. Dia ada, walaupun tak berwujud. Dia juga memiliki sifat yang sangat pemalu, karena itulah dia hanya berani muncul hanya saat aku sedang sendirian. Tetapi kadang jika ia sedang ingin, maka sahabatku ini bisa muncul juga walaupun di tempat yang sangat ramai. Sahabatku ini sangat ramah, dan juga sangat setia. Bahkan ia lebih setia dari pada orang yang kucintai sekalipun. Sahabatku ini tak butuh makan, ataupun minum, yang ia butuhkan adalah kesendirian dan kesedihan. Dua hal tersebut adalah makanan dan minumannya sehari-hari untuknya.

Kesepian, aku sering duduk berdua dengannya di pinggir tempat tidurku. Tak tentu kapan kami bisa bersama. Kadang kami bersama-sama di pagi hari, siang hari, dan waktu yang paling disukai sahabatku ini adalah malam hari. Karena pada malam hari, aku bisa banyak memberikannya kesendirian dan kesedihan yang menjadi makanan untuknya. Aku sangat menyukai kesetiaannya, tapi aku benci saat dia tiba-tiba datang tanpa mengabariku dulu. Tetapi dia tetaplah sahabatku, tak peduli sebenci apapun aku dengannya, dia tetap sahabat yang paling setia.

Sejak remaja, aku sudah tak pernah lagi menangis di depan orang lain, bahkan di depan orang tuaku sendiri. Karena aku rasa hal itu tak perlu, dan tak berguna. Karena itulah, jika hatiku hancur, atau jiwaku perih, aku hanya akan menangis sendiri. Lalu disaat itulah, kesepian pasti datang menemaniku, sahabatku ini akan terus berada di sisiku, menemaniku, dan membuatku dapat menikmati rasa sakit yang ada di hatiku ini. Terkadang sahabatku ini juga meresap masuk ke dalam jiwaku, membuatnya semakin terasa perih. Namun jika tidak ada dirinya, tak ada juga yang akan mengosongkan jiwa ini. Akan terus terasa perih jika tak ada sahabatku ini.

Dialah yang membantuku untuk mengosongkan pikiran, karena itu kadang sahabatku ini juga membawa senjata, senjata itu bernama kehampaan. Rasa sakit yang tadinya menyiksaku, ia perbaiki dan digantinya dengan senjata kehampaan. Mungkin kehampaan ini memang sedikit lebih baik dari rasa sakit, tapi terkadang ia bisa saja menggila dan menembaki hatiku sendiri. Tetapi apa boleh buat, ini pemberian dari sahabatku, aku tak mungkin bisa menolaknya. Kesepian selalu setia padaku, jadi aku akan mencoba untuk mempercayainya.

0 komentar: