Ini sahabatku, namanya adalah kesepian. Dia ada, walaupun tak berwujud. Dia juga memiliki sifat yang sangat pemalu, karena itulah dia hanya ...
Kesepian Adalah Sahabatku
Kesepian, aku sering duduk berdua dengannya di pinggir tempat tidurku. Tak tentu kapan kami bisa bersama. Kadang kami bersama-sama di pagi hari, siang hari, dan waktu yang paling disukai sahabatku ini adalah malam hari. Karena pada malam hari, aku bisa banyak memberikannya kesendirian dan kesedihan yang menjadi makanan untuknya. Aku sangat menyukai kesetiaannya, tapi aku benci saat dia tiba-tiba datang tanpa mengabariku dulu. Tetapi dia tetaplah sahabatku, tak peduli sebenci apapun aku dengannya, dia tetap sahabat yang paling setia.
Sejak remaja, aku sudah tak pernah lagi menangis di depan orang lain, bahkan di depan orang tuaku sendiri. Karena aku rasa hal itu tak perlu, dan tak berguna. Karena itulah, jika hatiku hancur, atau jiwaku perih, aku hanya akan menangis sendiri. Lalu disaat itulah, kesepian pasti datang menemaniku, sahabatku ini akan terus berada di sisiku, menemaniku, dan membuatku dapat menikmati rasa sakit yang ada di hatiku ini. Terkadang sahabatku ini juga meresap masuk ke dalam jiwaku, membuatnya semakin terasa perih. Namun jika tidak ada dirinya, tak ada juga yang akan mengosongkan jiwa ini. Akan terus terasa perih jika tak ada sahabatku ini.
Dialah yang membantuku untuk mengosongkan pikiran, karena itu kadang sahabatku ini juga membawa senjata, senjata itu bernama kehampaan. Rasa sakit yang tadinya menyiksaku, ia perbaiki dan digantinya dengan senjata kehampaan. Mungkin kehampaan ini memang sedikit lebih baik dari rasa sakit, tapi terkadang ia bisa saja menggila dan menembaki hatiku sendiri. Tetapi apa boleh buat, ini pemberian dari sahabatku, aku tak mungkin bisa menolaknya. Kesepian selalu setia padaku, jadi aku akan mencoba untuk mempercayainya.
Bukannya tak bisa bersama, tapi kau yang tak ingin kita bersama. Kau ucapkan berbagai kata dusta, agar diriku tak lagi bisa merasa cinta. Ka...
Kita Tak Bisa Bersama
Kau yang membuat masalah, kau juga yang menjatuhkan air mata. Kau yang menanamkan cinta, kau juga yang menghancurkannya. Sungguh aku tak menyangka, kau begitu berubah, tak seperti cinta yang pertama kali kita berjumpa. Sekarang tatapan matamu hanya penuh dengan kebohongan, dan senyumanmu penuh dengan kepalsuan yang menyakitkan. Apa yang membuat dirimu menjadi mawar beracun seperti ini? Bukankah dulu kau seperti mawar indah yang bahkan tak memiliki duri?
Coba kau jelaskan, jadi apa arti kita selama ini?
Apa artinya aku terus berusaha menjaga hati, dan kau berusaha menjaga janji?
Apa artinya tatapan indah yang selama ini kujadikan matahari, dan senyum manis seperti senja yang menghangatkan hati?
Apa artinya cinta yang selalu kau nyatakan? Apa artinya rasa sayang yang selalu kau sampaikan melalui pelukkan? Mungkinkah semua hal itu juga hanya dusta yang selalu kau sembunyikan dari kenyataan?
Sudahlah, kau boleh pergi jika kau mau.
Tapi jangan pernah kembali, karena nanti aku sudah tak di sini lagi. Mungkin aku telah pindah ke lain hati, atau aku sudah tidak bisa mencintai lagi. Yang pasti, jika nanti kau putuskan untuk kembali, aku bukanlah sosok yang dulu lagi. Yang kau anggap sebagai sandaran hati, namun pada akhirnya hanya kau jadikan sebagai tempat bersembunyi, dari rasa sakit yang tak mampu kau habisi.
Walaupun kau pernah menyakiti, tetapi hati tetap ingin kau dijaga tanpa tersakiti. Setidaknya kau pernah menjadi pemilik hati, walaupun tak bertanggung jawab dalam menjaga hati. Semoga jika nanti kita bisa bertemu lagi, kau masih baik, sebaik kau menyakiti hati. Dan aku masih sama seperti dulu kala saat belum pernah merasakan cinta.
Kesepian ini membunuhku perlahan tapi pasti. Menusuk jiwaku berkali-kali, sampai lubangnya sudah tak bisa diperbaiki. Membakar semangat menj...
Kesepian Ini
Kesepian ini perlahan membuat ingatan terbuang, sehingga hidup tak lagi terasa punya kenangan. Membuat makanan terasa seperti pasir yang tak bisa dimakan. Membuat air terasa seperti ribuan jarum yang siap menyakiti diri. Membuat hujan menjadi penghalang untuk pergi menjemput kebahagiaan yang tak pernah datang. Membuat mata terasa gelap gulita, dan telinga hanya dapat mendengar ribuan teriakan yang mengacaukan pikiran.
Kesepian ini membuat rumah terasa seperti penjara bawah tanah yang gelap gulita, membuat sengsara, dan membuat hati ingin dibunuh mati. Membuat angin terasa seperti ribuan pisau tajam yang merobek seluruh tubuh dengan kejam. Membuat kaki ingin berlari menghancurkan diri, dan tangan ingin memukul diri sampai mati.
Kesepian ini, perlahan membuatku gila tak tertahankan. Membuat hatiku tak lagi memiliki perasaan. Membuat pikiranku merasakan depresi, ingin mati tapi masih punya rasa takut, ingin hidup tapi dibayangi oleh rasa takut. Tolonglah aku jika kalian membaca coretan ini, gantikan purnama yang telah pergi hilang dari hidupku. Terangi kembali batinku dengan sinar mentari yang sudah tak pernah kukenal lagi. Tenangkan hatiku seperti saat senja yang tak pernah lagi kurasakan indahnya.
Aku tak ingin kamu hancur bersamaku, dalam luka dan duka hidup yang tak kenal waktu. Biarlah kubunuh sendiri kesengsaraan ini, agar kebahagi...
Hancur Sendiri
Cintamu menjadikanku sekuat batu, menghancurkan semua pilu, dan menenggelamkan gelisah yang datang tak menentu. Kamulah bagian hidup yang membuatku menjadi utuh, membuatku berhenti berjalan tanpa tujuan, dan membantuku membangun masa depan yang penuh dengan kenangan tak terlupakan. Kamulah alasanku menjadi ‘satu’ yang tak bisa ‘diduakan’. Menjadi ‘dua’ yang tak bisa dipisahkan. Hanya dengan dirimu seorang.
Jika rasa bosan datang menghampiriku, tolong jangan biarkan aku menjadi pengkhianat janji. Dan jika rasa bosan datang kepadamu, biarlah aku memeluk dirimu agar tak pergi dariku. Tusuklah aku sepuas yang kamu mau, caci maki diriku untuk menjauhimu, tapi aku berjanji takkan menjadikanmu ‘satu’ tanpa diriku. Aku tak ingin menyakiti dirimu, biarlah semua derita sementara ini tercurahkan padaku, sampai kamu kembali berkata “aku sangat mencintaimu” dan aku mencium kening manismu.
Hiduplah seperti yang kamu mau, aku tak ingin mengubah apa adanya dirimu. Tapi izinkan aku ikut menjaga kehormatanmu, membuatmu sadar jika ada sesuatu yang tak baik untukmu. Menjadi sinar mentari saat kamu bangun di pagi hari, memberikan kehangatan tanpa merubah penampilan. Atau seperti angin yang menyejukkan, tanpa meminta balasan. Aku hanya inginkan kamu bahagia, tanpa merusak keindahan dirimu yang sangat berharga.
Peganglah erat tanganku sayang, berjalanlah berdampingan denganku seorang. Jika ada sesuatu yang membahayakan, maka berdirilah di belakang diriku. Biarkan aku yang menanggung semua luka, agar dirimu tetap terjaga. Peluklah aku dari belakang, berikan kekuatan untukku, agar tetap bisa menjadi pahlawan hidupmu. Jika semua luka telah berlalu, aku ingin kamu kembali berada di sampingku. Kembali menggenggam tanganku dan berjalan bersamaku. Mari kita datangi masa depan yang telah menanti.
Berdua bersamamu, tanpa berhenti saling mencintai. Ditemani cahaya purnama yang menerangi hati, atau duduk berdua di sela-sela senja yang selalu indah.
Biarlah aku menjadi matahari untuk dirimu, yang kadang kamu keluhkan, padahal aku hanya ingin menghangatkan. Biarlah aku menjadi hujan untuk...
Anggaplah Aku Ada
Tak peduli seberapa keras aku berusaha, seberapa dalam cintaku pada dirimu, kau tak ingin menatapku. Hanya diam membisu seperti batu. Kucoba berusaha untuk menjadi ada di hadapanmu, namun kamu pura-pura buta dan terus berlalu saja seperti tidak ada siapa-siapa. Kamu tega melelehkan perhatian yang kuberikan, padahal aku sendiri selalu merasa kesepian. Kamu sanggup menyia-nyiakan kasih sayang yang kuberikan, padahal aku sendiri manusia yang paling ingin disayang. Kamu ingin pergi dari diriku, padahal aku telah berusaha sekuat hati untuk membuat dirimu jatuh cinta padaku.
Cinta yang kuberikan padamu, bukanlah cinta yang bermula karena nafsu. Tetapi cinta suci yang ingin kuberikan saat kita telah menjadi suami istri. Cinta yang mungkin akan bertahan sampai mati, dan bahkan sampai kita bertemu kembali di surga yang telah menanti, jika Tuhan telah menghendaki. Tetapi aku masih tidak tahu cinta seperti apa lagi yang kamu ingini, padahal aku sudah memberikan cinta sejati. Aku telah menjadikanmu purnama dalam hidupku. Yang menerangi gelap hidupku, dan mengusir kelam mimpiku. Kamulah alasan aku menjadi satu, dan hanya ingin menjadi dua denganmu.
Aku mohon, robohkanlah tembok ego yang ada di hatimu. Cerahkan pikiranmu dengan segala perjuanganku. Temuilah aku walau hanya dalam mimpimu. Tatap mataku, lihat ke dalamnya begitu banyak cinta yang kusimpan hanya untukmu. Rasakan perasaan hatiku, yang begitu menyayangi dirimu tanpa mengenal waktu. Lihatlah cahaya mataku, yang mengandung berjuta rindu hanya untukmu. Maka aku yakin kamu akan segera sadar, bahwa matahari yang selama ini kamu sia-siakan yang telah menjadi pencerah hidupmu, penghangat hatimu, dan pengukir senyum indah di wajah cantikmu, hanyalah diriku.
Terkadang aku benci dengan rasa sepi ini, yang ingin membunuhku mati sendiri. Terkadang aku benci dengan rasa sepi ini, yang tak ingin aku m...
Rasa Sepi Yang Ingin Membunuhku
Tetapi, semakin aku membencinya, semakin ia sering menghampiriku. Ia bagai bintang di hidupku, walaupun tidak terlihat di siang hari, tetapi sebenarnya ia masih tetap berada di tempatnya sendiri. Tak peduli sekuat apapun aku meyakinkan diri, terkadang rasa sepi masih dapat mengalahkan hatiku yang gelisah setengah mati.
Ingin aku berteriak kepada dunia, temanilah manusia yang kesepian ini. Berikanlah ia cerita yang indah, dan dengarkanlah semua keluh kesah tentang hidupnya yang penuh derita. Tetapi semuanya hanya bayanganku saja. Nyatanya aku masih tetap sendiri, tak ada yang peduli, dan rasa sepi yang akhirnya datang menemani. Tentu ia tidak sendiri, rasa sepi datang dengan tangis yang mengacaukan pikiran. Membuat hati merasakan kehancuran, dan tubuh terasa mati bagai tak bertuan.
Apalagi yang harus kulakukan wahai kawan? Aku sudah berusaha mencari teman, namun semua teman selalu sibuk dengan urusan. Aku ingin bercerita kepada keluarga, namun mereka terkadang tak memiliki perasaan yang sama, walau mengalir darah yang sama. Aku ingin menumpahkan semua duka pada orang yang aku cinta, namun apa daya ia tak peduli dengan manusia bodoh ini. Ya, bahkan orang yang aku cinta terkadang terasa seperti orang yang tak kukenal sama sekali.
Aku sangat ingin membunuh rasa sepi ini. Membuatnya menjadi perasaan damai, dan membuat hatiku merasa hangat seperti saat senja. Hanya Allah lah satu-satunya harapan yang bisa kupastikan. Hanya Al Qur’an satu-satunya bacaan yang bisa membuat hati menjadi riang tak tertahankan. Mungkin inilah cara yang paling dibutuhkan untuk diriku melawan kesepian yang tak tertahankan.
Semoga nanti aku sudah lagi tak merasa sepi, walaupun aku masih seorang diri di sini. Hanya ditemani mimpi-mimpi yang hampir mati, dan sejuta rasa cinta yang telah disia-siakan. Tetapi aku yakin, purnama selalu indah, walau kita hidup di jalan yang gelap gulita. Jika kau tetap tak bisa membunuh sepi ini, maka biarkanlah ia menjadi teman hati yang selalu setia menemani.
Kamu tahu kawan, apa yang lebih membuat hati sakit dari pada cinta yang tak terbalaskan? Yaitu cinta yang berakhir dengan pengkhianatan. Kam...
Hal Yang Paling Membuat Sakit Hati
Menurut dirimu apa hal yang paling membahagiakan di dunia ini? Apakah bisa bersama dengan orang yang kamu cintai? Dan bisa mati bersama dengan orang yang kamu sayangi? Tapi lebih dari itu, kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa melihat orang yang dicinta tersenyum bahagia. Walaupun tak bersama dengan dirimu, tapi itu saja sudah cukup untuk ikut membuat dirimu bahagia, walau hati sebenarnya menangis saat dia tertawa. Tak bisa berdua bukan berarti terpisah, hanya saja mungkin belum saatnya untuk bersama. Percayalah, menanti purnama mungkin terasa lama, tetapi keindahannya sebanding dengan apa yang bisa dilihat oleh mata.
Dan cinta memang tak selamanya akan terus bersama. Ada saatnya aku atau kamu harus berpisah. Bukan karena tak bahagia, atau sudah tak ingin bersama, tapi karena takdir kematian yang tak bisa kita tunda. Sampai saat itu tiba, izinkan diriku untuk menemani dirimu. Mengukir tawa di bibir manismu, dan menghapus segala pilu yang datang melekat padamu. Jika sudah saatnya aku melepaskanmu, harus kulakukan walau kenyataannya diriku takkan pernah mampu. Dan kamu juga harus ikhlas merelakan kepergianku, tapi jangan biarkan cinta darimu ikut pergi bersamaku.
Cinta akan tetap abadi, walau takdir selalu tak pasti. Hati kita akan selalu bersatu, walau aku sudah tak lagi berada di sisimu. Senyummu menghangatkan batinku, dan sakitmu membakar jiwaku. Jadi berjanjilah padaku, jika suatu saat nanti aku lebih dulu pergi, aku tak ingin engkau terus bersedih. Purnama harus tetap menyinari malam yang gelap, seperti dirimu yang menyinariku dalam kelam. Cintaku tak pernah benar-benar lenyap, dia seperti angin, ada dimana-mana, menyejukkan jiwa, walau tak bisa dilihat oleh mata.
Cintaku dan cintamu bagaikan jarum jam dan angka-angkanya. Tak ada artinya jika tak bersama. Hanya akan terjebak dalam dunia yang tak memiliki waktu, yang tak memiliki arti seberapa lamapun berlalu. Seperti hidup abadi, namun tak memiliki 1 detikpun untuk di ingat nanti. Saat usia sudah ingin mati, dan maut menghampiri.
Salam sayang rinduku padamu, yang jauh disana.
Aku ingin bercerita dengan dirimu. Bukan cerita biasa, melainkan cerita masa depan kita berdua. Bagaimana nantinya kita saling tertawa, meli...
Masa Depan Tanpa Rasa Sakit
Lalu ketika kita pergi piknik bersama. Kamu bersandar dibahuku, dihujani bunga-bunga yang telah gugur. Aku berkata padamu, bahwa kamulah satu-satunya bunga terindah untukku yang tak pernah gugur oleh waktu. Selalu mekar dan menawan walau beribu kali kuperhatikan. Kamu selalu membuatku seperti baru pertama kali melihat dirimu. Kamu selalu berhasil membuat hatiku, selalu jatuh cinta lagi kepadamu. Setelah kukatakan itu, kemudian kamu tersenyum. Sungguh, itu adalah senyuman terindah yang pernah terjadi di alam semesta.
Melihat mata hitammu yang mengandung cahaya purnama, membuat hatiku merasa gelisah. Aku tak ingin kehilangan tatapan purnama itu. Aku ingin selalu bisa menjadi bumi untukmu. Yang selalu disinari purnama malam hari. Walau begitu sunyi, tetapi cahayamu memberikanku arti, bahwa sepi pun dapat dinikmati, asalkan ada kamu yang menemani. Aku rela sepi, dan tak bisa menikmati senja di sore hari ini. Karena masih ada hari esok, di mana aku dan kamu akan bertemu di balik senja yang sudah tua. Telah lama menanti kedatangan kita berdua. Sepasang kekasih yang saling mencinta.
Sedangkan senyumanmu, terasa bagaikan cahaya fajar yang menyenangkan. Membuat hangat, dan juga menyehatkan. Membuat diriku seperti kembali di lahirkan. Memberikan semangat yang sangat menguatkan. Membuat burung-burung ikut bernyanyi riang. Ayam-ayam berteriak tak ingin ketinggalan. Dan bunga-bunga cepat bermekaran karena tak ingin kehilangan senyumanmu yang seperti fajar.
Jadi tetaplah seperti ini. Menjadi kita yang mengubah duka menjadi tawa. Menjadi kita yang mengubah tangis menjadi manis. Menjadi kita yang mengubah sakit menjadi rakit, yang bisa kita tumpangi untuk menuju kebahagiaan tanpa rasa sakit.
Hanya kamu dan aku, dengan segala rasa sakit yang kita ubah menjadi cinta.
Sejak berpisah denganmu, aku telah belajar 1 hal. Bahwa rasa sakit yang terukir karena terlalu mencintai pun dapat kuhapuskan. Walaupun awal...
Aku Sudah Baik-Baik Saja
Aku sungguh baik-baik saja sekarang. Ku anggap semuanya sudah berlalu, dan kamu tidak perlu khawatir lagi. Karena jika nanti kita tak sengaja bertemu, kupastikan mata ini sudah tak punya air lagi untuk menangisimu. Bibir ini sudah bisa tersenyum kembali walau rasanya pahit sekali. Tapi percayalah, ini bukan diriku yang dulu lagi.
Aku sudah banyak berubah sejak kamu hujat hatiku dengan beribu pedang. Kamu buang aku dan hanya menjadikanku kenangan. Kamu merasa tenang saat aku sudah tidak bisa lagi senang. Saat itulah perjalanan hatiku yang hancur dimulai. Aku belajar dari rasa sakit yang kamu tanam, mencoba memperbaiki puing demi puing hati yang kamu hancurkan. Mencoba bertahan di dalam kesepian dan kehampaan yang mencoba menenggelamkan.
Tapi kini semua rasa sakit sudah berteman. Aku sudah bisa menjadikan kenangan kita menjadi hal yang biasa. Cinta yang dulu begitu meriah, sekarang hanyalah rasa yang tidak ada artinya. Peduliku yang dulu begitu besar padamu, kini telah menjadi rasa hampa yang selalu menemaniku. Tapi aku benar baik adanya. Aku sudah melewati masa-masa sulit akibat terlalu mencinta.
Walau mungkin masih ada sedikit cinta yang ingin kembali bercerita, kupastikan ia akan segera menjadi buta. Tidak akan kubiarkan lagi melihatmu, yang dulu begitu indah, namun sekarang sanggup menghancurkan dengan alasan cinta. Namun sudahlah, semuanya sudah menjadi abu. Aku tidak ingin menyimpan dendam padamu. Karena sebenci apapun aku sekarang, kamu pernah menjadi seseorang yang paling aku sayang.
Hiduplah dengan tenang bersama seseorang yang membuatmu meninggalkanku. Semoga ia bisa menjagamu lebih baik, sebaik kamu menyakitiku. Semoga cinta yang ia berikan padamu bukan hanya semata karena nafsu. Tetapi cinta tulus seperti yang kuberikan dulu, walaupun kamu sia-siakan tanpa ragu.
Hiduplah dengan baik, sebaik aku dulu menyayangimu.
Aku hanya ingin kita bisa selalu bersama, walau tanpa sebuah hubungan cinta, tapi hati kita tetap saling menjaga cinta. Mungkin memang lebih...
Membuat Takdir Menyerah Pada Kita
Aku ingat saat itu kamu pernah bilang, bahwa hidup tidak sesederhana seperti yang kuimpikan. Lalu kukatakan padamu, hidup ini memang sederhana, manusia saja yang membuat rumit. Terutama soal permasalahan cinta, kita sudah sama-sama merasa, bahwa kitalah alasan untuk saling tertawa, bahagia. Yang perlu kita lalukan sekarang hanyalah melawan penantian yang mungkin terasa sangat panjang. Penantian untuk bisa saling menatap saat kita dibangunkan oleh fajar. Lalu ku kecup kening manismu dan mengatakan “selamat pagi sayang”. Tapi tentu saja untuk mencapai impian yang besar, ada pengorbanan yang besar.
Mungkin dalam penantian ini hati tak selamanya begini. Selalu bahagia dan ceria seperti ini. Mungkin ada sela-sela saat aku dan kamu tidak bisa bercerita, saat kita saling curiga, dan akhirnya pernah memikirkan untuk saling berpisah. Namun aku tahu kita mampu melewatinya berdua. Tahanlah aku jika terlalu bodoh ingin melepas dirimu. Saat amarahku menyayat hatimu, tamparlah aku sekuat yang kamu mau. Tapi jangan pernah pergi dari hidupku. Aku membutuhkan dirimu, dan kamu pun pasti membutuhkan diriku. Pada akhirnya kita hanya akan saling menyesal, dan muncul lagi rasa ingin saling mempertahankan.
Aku mencintaimu tulus, hanya ingin membantu menjaga kehormatan dirimu, menyelesaikan masalahmu, dan melukis tawa di senyum indahmu. Anggaplah saja aku sebagai sahabatmu saat ini, karena nanti pada akhirnya kita akan menjadi suami istri. Aku tahu di dunia ini tak ada yang pasti, bisa saja bukan aku yang akan menjadi suamimu, atau bukan kamu yang akan menjadi istriku. Tapi aku percaya, Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk memisahkan. Bukan hanya untuk saling menyakiti lalu beranjak pergi. Tapi ada sesuatu yang lebih indah telah menanti. Selagi aku berusaha, dan kau sabar menanti, takdir pasti menyerahkan diri.
Aku hanya ingin kamu mengerti. Bahwa cinta ini akan selalu utuh di hati. Walaupun aku mati, cinta kan selalu milikmu. Bersamamu kutemukan, dan bersamamu kembali kutitipkan, jika ajalku telah datang memintaku kembali pulang. Tenang sayang, aku tidak akan meninggalkan dirimu seorang, cintaku telah kutinggalkan, untuk menjaga hatimu. Dan tanggung jawabku telah kutitipkan ke seseorang, yang akan menjaga ragamu. Seseorang itu adalah orang tua, sahabat, atau seseorang yang lebih baik akan menggantikan diriku.
0 komentar: