Lelaki itu hanya duduk termenung di
pinggiran tempat tidur, dalam kamar yang penuh dengan uapan kesepian. Tatapan
matanya sayup, bibirnya diam membisu, hatinya ikut membatu, pikirannya tak
merasa kacau, juga tak merasa damai, hanya ada kegelapan, kehampaan, dan
kekosongan yang tak berkesudahan. Ia tidak mengungkapkan semua itu dengan
berteriak kencang, tetapi semua itu ia pendam di dalam diri yang kesepian.
Berkali-kali hatinya diketuk oleh
rasa sakit, namun sayang, sudah terlalu penuh hatinya dengan penderitaan.
Bahkan rasa sakit pun sudah tak sanggup lagi untuk bertempat tinggal di dalam
hatinya yang penuh dengan rasa-rasa cinta yang telah berubah menjadi penusuk
hati. Depresi ingin sekali bertamu lagi di pikirannya, namun sayang, pikiran
lelaki ini sudah tak bisa menerima lagi. Karena sudah tak ada ruang lagi di
pikiran sang lelaki, semuanya hanya kegelapan, kekosongan tak bertempat, bahkan
kematian tak mau tinggal di dalam pikirannya.
Sesekali ia tersadar dari lamunan
kosongnya, bukan untuk berpikir atau merasakan, tetapi hanya untuk meledakkan
tangisan. Tangisan keputusasaan, tangisan patah hati, tangisan yang mengandung
berjuta rasa sepi, yang setiap hari menusuk jiwa dengan belati. Wanita itu,
penyebab si lelaki patah hati, sekarang pun masih saja membuatnya ingin mati
berkali-kali. Cinta yang diberi si lelaki dengan ketulusan hati, malah dibalas
dengan belati yang menyayat hati. Tak sanggup rasanya si lelaki menahan rasa
ini. Sakit bercampur rasa sedih yang tak terbayangkan oleh manusia lain.
Kini sang lelaki masih saja menangis,
tanpa suara sedikitpun. Namun di dalam hatinya sudah penuh dengan dengungan
teriakkan dan jeritan yang jika di dengar dapat memecahkan seluruh harapan,
membunuh kebahagiaan, dan membuat tawa menjadi hal yang tak pernah nyata. Lelaki
kesepian ini menangis bukan karena cengeng, tapi ia memang harus menangis untuk
meredakan sakit yang membara di dalam hatinya. Untuk membunuh kehampaan yang
menyayat-nyayat jiwanya. Jika ia tidak menangis, mungkin sudah matilah dia.
Entah karena racun atau irisan pisau di nadinya.
0 komentar: