Lelaki itu hanya duduk termenung di pinggiran tempat tidur, dalam kamar yang penuh dengan uapan kesepian. Tatapan matanya sayup, bibirnya d...

Cerita Lelaki Kesepian

Lelaki itu hanya duduk termenung di pinggiran tempat tidur, dalam kamar yang penuh dengan uapan kesepian. Tatapan matanya sayup, bibirnya diam membisu, hatinya ikut membatu, pikirannya tak merasa kacau, juga tak merasa damai, hanya ada kegelapan, kehampaan, dan kekosongan yang tak berkesudahan. Ia tidak mengungkapkan semua itu dengan berteriak kencang, tetapi semua itu ia pendam di dalam diri yang kesepian.

Berkali-kali hatinya diketuk oleh rasa sakit, namun sayang, sudah terlalu penuh hatinya dengan penderitaan. Bahkan rasa sakit pun sudah tak sanggup lagi untuk bertempat tinggal di dalam hatinya yang penuh dengan rasa-rasa cinta yang telah berubah menjadi penusuk hati. Depresi ingin sekali bertamu lagi di pikirannya, namun sayang, pikiran lelaki ini sudah tak bisa menerima lagi. Karena sudah tak ada ruang lagi di pikiran sang lelaki, semuanya hanya kegelapan, kekosongan tak bertempat, bahkan kematian tak mau tinggal di dalam pikirannya.

Sesekali ia tersadar dari lamunan kosongnya, bukan untuk berpikir atau merasakan, tetapi hanya untuk meledakkan tangisan. Tangisan keputusasaan, tangisan patah hati, tangisan yang mengandung berjuta rasa sepi, yang setiap hari menusuk jiwa dengan belati. Wanita itu, penyebab si lelaki patah hati, sekarang pun masih saja membuatnya ingin mati berkali-kali. Cinta yang diberi si lelaki dengan ketulusan hati, malah dibalas dengan belati yang menyayat hati. Tak sanggup rasanya si lelaki menahan rasa ini. Sakit bercampur rasa sedih yang tak terbayangkan oleh manusia lain.

Kini sang lelaki masih saja menangis, tanpa suara sedikitpun. Namun di dalam hatinya sudah penuh dengan dengungan teriakkan dan jeritan yang jika di dengar dapat memecahkan seluruh harapan, membunuh kebahagiaan, dan membuat tawa menjadi hal yang tak pernah nyata. Lelaki kesepian ini menangis bukan karena cengeng, tapi ia memang harus menangis untuk meredakan sakit yang membara di dalam hatinya. Untuk membunuh kehampaan yang menyayat-nyayat jiwanya. Jika ia tidak menangis, mungkin sudah matilah dia. Entah karena racun atau irisan pisau di nadinya.

Dalam setiap tetesan air mata yang mengalir, mengandung berjuta teriakan hati yang penuh dengan kesakitan. Setelah cukup lama membuang air mata, sang lelaki kembali terdiam. Berhenti sejenak dari tangisan yang penuh pilu, mencoba kembali mengangkat kepala dan menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Lelaki itu kembali duduk di pinggir tempat tidurnya, diam dengan tatapan kosongnya, dengan teman terbaiknya, yaitu kesepian. Pikirannya pun kembali kosong, jiwanya kembali di serang kehampaan. Sang lelaki termenung, seakan-akan menunggu ajal yang tak kunjung datang.

0 komentar: