Aku ingin bercerita dengan dirimu. Bukan cerita biasa, melainkan cerita masa depan kita berdua. Bagaimana nantinya kita saling tertawa, meli...

Masa Depan Tanpa Rasa Sakit

Aku ingin bercerita dengan dirimu. Bukan cerita biasa, melainkan cerita masa depan kita berdua. Bagaimana nantinya kita saling tertawa, melihat senja yang indah, dan makan malam bersama dengan tatapan bahagia. Saat itu kamu bisikkan kepadaku, bahwa kamu ingin tetap berdua bersamaku. Lalu ku genggam tangan cantikmu, dan mencium keningmu. Aku berbisik, tenanglah kasih, cinta ini takkan pernah mati, ia sudah menjadi penjaga hati, yang kuberikan hanya untuk dirimu kasih.

Lalu ketika kita pergi piknik bersama. Kamu bersandar dibahuku, dihujani bunga-bunga yang telah gugur. Aku berkata padamu, bahwa kamulah satu-satunya bunga terindah untukku yang tak pernah gugur oleh waktu. Selalu mekar dan menawan walau beribu kali kuperhatikan. Kamu selalu membuatku seperti baru pertama kali melihat dirimu. Kamu selalu berhasil membuat hatiku, selalu jatuh cinta lagi kepadamu. Setelah kukatakan itu, kemudian kamu tersenyum. Sungguh, itu adalah senyuman terindah yang pernah terjadi di alam semesta.

Melihat mata hitammu yang mengandung cahaya purnama, membuat hatiku merasa gelisah. Aku tak ingin kehilangan tatapan purnama itu. Aku ingin selalu bisa menjadi bumi untukmu. Yang selalu disinari purnama malam hari. Walau begitu sunyi, tetapi cahayamu memberikanku arti, bahwa sepi pun dapat dinikmati, asalkan ada kamu yang menemani. Aku rela sepi, dan tak bisa menikmati senja di sore hari ini. Karena masih ada hari esok, di mana aku dan kamu akan bertemu di balik senja yang sudah tua. Telah lama menanti kedatangan kita berdua. Sepasang kekasih yang saling mencinta.

Sedangkan senyumanmu, terasa bagaikan cahaya fajar yang menyenangkan. Membuat hangat, dan juga menyehatkan. Membuat diriku seperti kembali di lahirkan. Memberikan semangat yang sangat menguatkan. Membuat burung-burung ikut bernyanyi riang. Ayam-ayam berteriak tak ingin ketinggalan. Dan bunga-bunga cepat bermekaran karena tak ingin kehilangan senyumanmu yang seperti fajar.

Jadi tetaplah seperti ini. Menjadi kita yang mengubah duka menjadi tawa. Menjadi kita yang mengubah tangis menjadi manis. Menjadi kita yang mengubah sakit menjadi rakit, yang bisa kita tumpangi untuk menuju kebahagiaan tanpa rasa sakit.

Hanya kamu dan aku, dengan segala rasa sakit yang kita ubah menjadi cinta.

0 komentar: