Setelah
kepergianmu yang tiba-tiba, tanpa rasa bersalah, dan tanpa mengucapkan sepatah
kata yang bisa menjelaskan semuanya, aku berusaha mencoba untuk menghapus semua
bayangmu yang masih tinggal di hatiku. Walau rasanya sangat sulit dan hampir
mustahil, tetapi aku terus mencoba walau hasilnya kebanyakan nihil. Bayangmu
masih saja tinggal di sini, bersama sejuta rasa sakit yang kau tinggalkan
sendiri, untuk membunuhku perlahan mati.
Kucoba
untuk menyembunyikan semua barang pemberian darimu, barang yang memiliki
kenangan bersamamu dari kamarku. Hal tersebut berhasil melenyapkan sedikit
bayangmu yang tertinggal di kamarku. Namun bagaimana caranya aku membunuh
bayang dirimu yang terus tinggal di pikiranku?
Setiap langkah
yang kubuat, rasanya kau selalu mengikuti diriku walau tak terlihat. Terkadang
aku merasa seperti engkau ada di suatu tempat dekat denganku, tetapi ketika aku
sadar bahwa dirimu telah pergi jauh, aku segera pergi berlalu, kembali membawa
rasa pilu. Kau tahu rasanya seperti itu? Aku merasa seperti orang gila, orang
yang berlari lalu tertawa-tawa. Padahal hatinya merasakan sakit yang setiap
saat menggila.
Itu
hanyalah bayang dirimu yang masih tinggal di pikiranku, lalu bagaimana dengan
rasa cinta ini yang masih betah tinggal di hatiku?
Cinta ini
yang dulunya menjadi penghangat yang kau beri, tetapi sekarang bagaikan penyayat
hati yang ingin membuatku mati. Setiap kali aku teringat dengan dirimu yang
semakin menghilang, cinta ini terus-menerus menusuk hatiku, membuat bekas-bekas
luka baru yang mungkin takkan pernah hilang.
Lalu
giliran kenangan, ia bagaikan pedang yang sesuka hatinya datang, lalu menusukku
dari belakang. Setiap kali aku terdiam, sendiri tak berteman, entah mengapa
kenangan tentang dirimu terus memaksa terlintas di dalam benakku. Terlintas di
depan mataku, berlarian menertawaiku yang tak bisa melupakanmu. Mengatakan aku
bodoh, masih saja mengingat tentang dia yang sudah menjadi masa lalu. Dan
memutuskan lari dari hidupku.
Lalu aku
berpikir mungkin malam adalah waktunya aku bisa tenang, lepas dari bayangmu,
ataupun kenangan yang mencoba merusak hidupku. Saat aku memejamkan mata,
ternyata kau masih saja terus tak membiarkanku mati sendiri. Kau masih saja
terus ingin membunuhku, menyiksaku secara perlahan, dengan muncul di dalam
mimpiku. Kau masih saja mengganggu hidupku walaupun dalam tidurku.
Aku merasa
gila! Kapan waktunya aku bisa sendiri tanpa kau sakiti? Rasanya tak sanggup aku
hidup menggila seperti ini.
Kumohon,
jika kau memang benar-benar ingin pergi dari hidupku, bawa juga semua
bayanganmu pergi. Semua kenangan ini, kau bawa saja sendiri, aku sudah tak
ingin mengingatnya lagi. Coba saja kau rasakan sendiri penderitaan yang selalu
menyiksaku ini.
0 komentar: